Jakarta, VIVA – Ribuan keluarga di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menghadapi krisis air bersih akibat kemarau ekstrem yang berlangsung lebih panjang dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat warga harus memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan paling mendasar, seperti minum dan memasak, sementara kebutuhan mandi dan mencuci pakaian harus menunggu ketersediaan air.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat, sebanyak 2.456 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan. Mereka tersebar di 19 desa dan kelurahan yang berada di 10 kecamatan.
Sumur warga yang mengering membuat kebutuhan air bersih semakin bergantung pada distribusi bantuan. “Berdasarkan data hingga hari ini, sebanyak 2.456 KK yang tersebar di 19 desa/kelurahan yang berada di 10 kecamatan mengalami krisis air bersih karena sumur mereka mengering akibat kemarau ekstrem,” kata Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo, Rabu (14/10/2026).
Menurut Edy, permintaan distribusi air bersih dari masyarakat meningkat selama beberapa pekan terakhir. BPBD Jember bahkan sempat kewalahan memenuhi kebutuhan tersebut sehingga berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah untuk membantu penyaluran air ke wilayah terdampak.
“Saat ini kami harus mengatur skala prioritas untuk masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk kebutuhan memasak dan minum, sehingga masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk mandi dan cuci pakaian terpaksa harus bersabar,” tuturnya.
Kondisi kekeringan diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. BPBD Jember menerima informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau di wilayah tersebut berpotensi berlangsung hingga akhir November 2026.
Sebelumnya, kemarau diperkirakan berakhir pada awal November. Perubahan perkiraan tersebut membuat waktu pemulihan ketersediaan air bersih mundur dari prediksi semula.
“Dengan informasi dari BMKG tersebut, maka awal musim hujan di Kabupaten Jember diprediksi pada awal Desember 2026, sehingga kemarau semakin panjang dan kemungkinan kebutuhan air bersih masyarakat juga semakin meningkat,” katanya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber