KETIK, JOMBANG – Berawal dari ketidakpastian hasil panen, Mohammad Faisol, 64, memilih mencari peluang usaha di luar sektor pertanian. Pada 2005, ia memberanikan diri meminjam modal Rp1 juta dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk memulai usaha kerupuk goreng pasir di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan Faisol membangun usaha yang kini mampu mengolah 4 hingga 5 kuintal tepung tapioka per hari. Produk kerupuk goreng pasirnya tidak hanya dipasarkan di Jawa Timur, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah lain, mulai dari Jawa Tengah, Jakarta, Bandung, hingga Sorong, Papua.

Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam semalam. Sebelum menekuni usaha kerupuk, Faisol bertahun-tahun menggantungkan hidup dari bertani. Ketidakpastian hasil panen mendorongnya mencari sumber penghasilan lain yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang.

Pada 2005, ia pun memulai usaha kerupuk goreng pasir dengan kemampuan produksi rata-rata 1 kuintal tepung tapioka per hari.

“Waktu itu, saya hanya punya tekad. Tidak tahu ke mana usaha ini akan membawa, tapi saya harus mencoba,” kenang Faisol.

Dengan modal terbatas, Faisol perlahan membangun usahanya. Ia memanfaatkan peluang pasar kerupuk goreng pasir yang telah berkembang di Desa Badang, desa yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi kerupuk goreng pasir di Kabupaten Jombang.

Lima tahun setelah memulai usaha, Faisol kembali mengambil langkah untuk memperbesar kapasitas produksinya. Pada 2010, ia mengajukan pinjaman tambahan guna membeli mesin produksi.

Pengadaan mesin tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan usahanya. Dari kapasitas awal sekitar 1 kuintal tepung tapioka per hari, produksi kini meningkat menjadi 4 hingga 5 kuintal per hari.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *