
Jakarta (ANTARA) – Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menilai peluncuran buku “Historiografi Islam Nusantara” di Surabaya, Jawa Timur, dapat memperkuat posisi strategis Indonesia di kancah global di tengah memuncaknya konflik peradaban dan ketegangan geopolitik dunia.
Ketua Umum LPOI sekaligus penulis buku tersebut, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa posisi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk Muslim sangat menarik perhatian bangsa-bangsa besar, sehingga pemahaman mendalam mengenai akar sejarah dan masa lalu bangsa menjadi sangat krusial.
Menurut Kang Said, pemahaman mengenai Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri waktu kedatangan atau penyebaran ajarannya semata, melainkan menuntut kesadaran sejarah yang utuh untuk melihat bagaimana Islam berinteraksi dengan kebudayaan lokal serta membentuk institusi sosial.
Islam di Nusantara, lanjutnya, hadir tidak hanya sebagai agama mayoritas, tetapi juga berperan aktif dalam membangun jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, kesusastraan, hingga berbagai institusi sosial dan politik yang menjadi pilar peradaban.
Melalui buku 11 jilid yang disusunnya, ia mendedikasikan karya tersebut untuk mengajak pembaca melihat historiografi Islam Nusantara sebagai ruang kajian ilmiah yang dinamis, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta responsif terhadap penemuan sumber-sumber sejarah baru.
Dalam kerangka sejarah tersebut, organisasi Islam modern seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan berbagai ormas Islam lainnya diposisikan sebagai subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan, menyimpan memori kolektif, serta mewariskan pengalaman melalui arsip dan dokumen internal.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus co-author buku, Imam Pituduh, menjelaskan bahwa pemilihan Kota Surabaya sebagai lokasi peluncuran perdana dilakukan untuk melakukan napak tilas sejarah revolusi kemerdekaan serta mengambil berkah semangat para wali dan kerajaan Nusantara dalam menyambut Hari Santri 2026.
Di tengah arus informasi publik yang serba ringkas dan terfragmentasi saat ini, Imam Pituduh mengingatkan pentingnya membekali masyarakat dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak terjadi penyederhanaan maupun manipulasi sejarah masa lalu.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber