
Surabaya (ANTARA) – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menekankan keselamatan petugas dan relawan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kabupaten Pasuruan.
“Tentu yang harus kita lakukan sekarang kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan,” kata Khofifah dalam keterangan diterima di Surabaya, Rabu.
Dalam rapat koordinasi (rakor) penanganan karhutla di posko kebakaran Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan tersebut Khofifah mengatakan penanganan kebakaran harus mempertimbangkan kondisi medan, perkembangan api, arah angin, dan keselamatan personel.
Hal itu menjadi perhatian setelah kebakaran di kawasan Gunung Bromo menimbulkan korban jiwa, dengan lima orang meninggal dunia dan satu orang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.
“Kita semua berduka ada enam relawan terdampak lima meninggal dunia, innalilahi wa innailaihi raji’un, per hari ini Dinas Sosial dan BPBD Jatim sudah takziah kelima rumah duka,” katanya.
Ia memastikan biaya perawatan korban yang masih dirawat ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Khofifah juga mengingatkan bahwa angin kencang dapat meningkatkan risiko dalam operasi pemadaman, termasuk bagi petugas yang berada di luar titik kebakaran.
“Yang di Bromo itu sesungguhnya mereka tidak di area karhutla, ada karhutla yang anginnya kencang sehingga kecepatan angin itu tidak bisa dimitigasi secara lebih aman,” ungkapnya.
Menurut dia, kondisi medan pegunungan yang terjal dan keterbatasan akses mengharuskan operasi pemadaman dilakukan secara terkoordinasi.
Kesiapan perlengkapan pelindung, komunikasi antartim, jalur evakuasi, serta pemantauan kondisi petugas perlu menjadi perhatian.
“Koordinasi dengan apakah Manggala Agni ataukah MPA (Masyarakat Peduli Api), ataukah relawan yang lain dengan kepala desa, camat dan semua jajaran TNI Polri yang sudah memiliki pemetaan dengan baik maka bisa melakukan langkah-langkah pengamanan dan pemadaman maupun pembasahan,” ujarnya.
Berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, sebanyak 493 personel gabungan terlibat dalam pemadaman pada 13–19 Oktober 2026 di Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, dan Kota Batu
Personel tersebut terdiri atas polisi kehutanan, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), penyuluh kehutanan, masyarakat peduli api, relawan, dan warga setempat.
“Jadi hari ini area Tahura Soerjo ini masih terdeteksi ada 92 hotspot,” katanya.
Selain keselamatan petugas, pemerintah juga memprioritaskan perlindungan warga desa penyangga dan pemenuhan kebutuhan air bersih.
Kebakaran Tahura Raden Soerjo berdampak pada jaringan distribusi air sepanjang 10.260 meter di tiga desa, yakni 4.000 meter di Desa Tambaksari, 3.750 meter di Desa Jatiarjo, dan 2.510 meter di Desa Dayurejo, Kabupaten Pasuruan.
Khofifah mengatakan Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah memetakan jaringan pipa yang terdampak dan merencanakan pengeboran sumur untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah mengajukan permohonan bantuan helikopter untuk pemadaman melalui pengeboman air atau water bombing.
Dia mengingatkan pentingnya menjaga vegetasi di sekitar mata air dan daerah tangkapan air. Dengan luas 27.868,30 hektare yang membentang di enam kabupaten/kota dan memiliki 57 desa penyangga, Tahura Raden Soerjo berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, menyimpan karbon, dan melindungi sumber daya air.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber