Keberadaan pesantren di Indonesia sudah berabad-abad lamanya, bahkan sejak zaman pra-kemerdekaan.

Berdasarkan Babad Demak, pondok pesantren diketahui muncul pertama kali pada masa Raden Rahmat atau Sunan Ampel di abad ke-14, seperti dikutip dari laman Daarut Tarmizi.

Namun ada pula sumber lain yang menyebut pesantren muncul sekitar tahun 1062 di Pamekasan, Madura.

Terlepas dari itu, sudah mengakarnya pesantren di tanah Indonesia membuat tradisi dan budaya santri pun melekat dalam keseharian kita. Salah satunya penggunaan sarung dan peci yang jadi ciri khas para santri.

Namun, di antara semua jenis pakaian yang ada, mengapa harus sarung dan peci? Jika merunut kembali ke belakang, ternyata kedua benda ini menjadi simbol perlawanan santri terhadap para penjajah. Simak ulasan singkat sejarahnya berikut ini.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, penggunaan jas, celana, dan sepatu makin digalakkan. Dosen Pascasarjana IAI Al- Khoziny Buduran Sidoarjo, Heru Siswanto, dalam laman NU Online menulis, upaya ini merupakan usaha kolonial untuk memperluas pengaruh sekaligus membuat kekuasaan penjajah lebih mudah diterima masyarakat.

Namun, para kiai dan pejuang menyadari, pakaian juga dapat menjadi simbol dominasi budaya. Sebagai tanggapan, mereka mendorong santri dan masyarakat memakai sarung serta peci dalam kehidupan sehari-hari.

Busana tersebut kemudian menjadi penanda jati diri dan semangat untuk menolak pengaruh asing.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *