:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/YJI-Cabang-Sidoarjo-menyoroti-risiko-penyakit-jantung-pada-usia-muda.jpg)
SURYA.co.id, SIDOARJO – Penyakit jantung tidak lagi hanya menjadi ancaman bagi kelompok lanjut usia.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada kelompok usia 25–34 tahun mencapai 0,15 persen.
Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Sidoarjo, dr Sriatun Subandi, menegaskan bahwa pencegahan penyakit kardiovaskular perlu diperkuat melalui edukasi dan perubahan perilaku sehari-hari.
Menurut Sriatun, faktor risiko penyakit jantung berkaitan erat dengan kebiasaan hidup, seperti kurangnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi buah dan sayur, merokok, serta konsumsi gula, garam dan lemak secara berlebihan.
“Angka ini menjadi alarm penanda bahwa penjangkauan edukasi pencegahan tidak boleh lagi hanya menyasar usia lanjut, tetapi juga generasi muda,” kata Sriatun dalam seminar peringatan Hari Jantung Sedunia di Pendopo Delta Wibawa, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (23/10/2026).
Ia menilai, pembiasaan pola hidup sehat sejak dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit jantung sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.
Besarnya persoalan penyakit kardiovaskular juga terlihat dari tingginya pembiayaan kesehatan untuk penanganan penyakit tersebut.
Sriatun menyampaikan, data Kementerian Kesehatan mencatat pembiayaan penanganan penyakit jantung dan stroke melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencapai Rp 22,8 triliun pada 2023.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber