Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember merupakan salah satu Satuan Kerja di Kanwil Kemenkumham Jawa Timur. Program utama Lapas Jember ialah mendidik dan membentuk Warga Binaan untuk kembali membaur ke masyarakat.

JEMBER – Pendidikan kesetaraan terus berjalan optimal di balik jeruji besi Lapas Kelas IIA Jember. Sebanyak 12 warga binaan yang tergabung dalam program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kejar Paket C kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan penuh antusias. Pada pertemuan kali ini, Senin (26/10/2026) para siswa mendapatkan materi pendalaman Bahasa Indonesia yang berfokus pada karya sastra cerita pendek (cerpen) beserta unsur-unsur pembangunnya.

Dalam sesi pembelajaran tersebut, tutor tidak hanya memaparkan teori dasar, tetapi juga mengajak warga binaan untuk langsung mempraktikkan daya nalar kritis mereka. Para siswa disajikan sebuah teks cerpen dengan alur cerita yang cukup kompleks dan konflik yang mendalam. Sebagai tolok ukur pemahaman, mereka diberikan tugas analitis untuk mencari, mengidentifikasi, dan menguraikan minimal lima tokoh yang terlibat, lengkap dengan penjelasan rinci mengenai watak masing-masing tokoh.

Antusiasme dalam membedah karya sastra ini mendapat apresiasi langsung dari Widyanita Ekowati selaku tutor PKBM Al Muttaqin Lapas Kelas IIA Jember yang mendampingi kelas. “Saya sangat bangga melihat semangat murid – murid kami hari ini. Meskipun terbatas, daya tangkap dan antusiasme mereka untuk menganalisis watak dari tokoh-tokoh cerpen sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa kemauan mereka untuk menimba ilmu sama sekali tidak ikut terkurung,” ujar Nita.

Dukungan penuh terhadap kelancaran program pendidikan ini juga ditegaskan oleh Kasi Binadik Lapas Jember, Heri Aguswanto. Ia menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di lapas merupakan wujud nyata komitmen lembaga dalam memenuhi hak warga binaan. “Pendidikan kesetaraan adalah hak dasar seluruh warga binaan yang harus dipenuhi. Ini selaras dengan arahan langsung dari Bapak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), di mana negara harus hadir untuk memberikan pembinaan yang mencerdaskan,” tegas Heri.

Pembelajaran interaktif ini bukan sekadar pemenuhan silabus kurikulum akademik Paket C semata, melainkan juga sarana efektif untuk melatih ketajaman empati warga binaan. Melalui program PKBM yang berkelanjutan, diharapkan ilmu dan ijazah yang mereka peroleh nantinya benar-benar menjadi bekal berharga saat mereka siap kembali berbaur dan berkarya di tengah masyarakat.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *