
Pamekasan (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengenang perjuangan Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, putra Pamekasan yang berperan penting dalam memperjuangkan penggunaan nama Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kisah tokoh tersebut menjadi salah satu sorotan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur di Kantor Bakorwil IV Madura, Jalan Slamet Riyadi Nomor 1, Pamekasan, Rabu (28/10/2026).
Upacara peringatan tersebut dipimpin langsung Khofifah dan dihadiri jajaran pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta para undangan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa persatuan Indonesia lahir melalui perjuangan panjang para pemuda yang berani mengesampingkan perbedaan suku, agama, daerah, dan bahasa demi mewujudkan cita-cita bersama sebagai satu bangsa.
“Salah satu tokoh yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia adalah Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Tokoh kelahiran Pamekasan, 10 Oktober 1904 dikenal sebagai penggagas penggunaan nama Bahasa Indonesia dan pemimpin Kongres Pemuda I pada 1926,” kata Khofifah Indar Parawansa.
Perjuangan Mohammad Tabrani dalam memperjuangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menjadi bagian penting dari sejarah kebangsaan. Dalam Kongres Pemuda I yang berlangsung di Batavia pada 30 April hingga 2 Mei 1926, Tabrani terlibat dalam pembahasan mengenai bahasa yang dapat menjadi pemersatu masyarakat Nusantara.
Pada kongres tersebut, Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Tabrani memiliki pandangan berbeda. Ia menginginkan bahasa persatuan itu disebut Bahasa Indonesia, sejalan dengan gagasan mengenai identitas bangsa yang tengah diperjuangkan para pemuda.
“Dalam kongres itu, Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Namun, Tabrani memiliki pandangan berbeda. Ia meyakini bahwa bahasa persatuan bangsa Indonesia harus disebut Bahasa Indonesia, sejalan dengan identitas bangsa yang sedang diperjuangkan, luar biasa,” ungkapnya.
Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa gagasan mengenai bahasa persatuan tidak lahir begitu saja. Para tokoh pemuda melalui proses diskusi dan perdebatan untuk merumuskan identitas kebangsaan yang mampu melampaui batas kedaerahan.
“Perbedaan pendapat itu menunjukkan bahwa lahirnya Bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan merupakan hasil pemikiran, perdebatan, dan perjuangan yang tidak sederhana. Gagasan tersebut kemudian memperoleh tempat dalam rumusan Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda II, 27–28 Oktober 1928, ketika para pemuda mengikrarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,” tegasnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber