
Publik Tanah Air kembali digegerkan oleh kemunculan sebuah aliran yang menyimpang dari ajaran agama. Di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur seorang pria nekat mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi. Klaim teologis palsu ini berujung pada dugaan tindak pidana penipuan dan pemerasan, di mana pelaku berhasil mengeksploitasi kepatuhan buta para pengikutnya hingga menelan kerugian finansial yang fantastis, mencapai Rp1,3 miliar.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Cholil Nafis memastikan bahwa klaim dan praktik pengajian yang dijalankan pria tersebut adalah murni sebuah kesesatan. Kiai Cholil membedah setidaknya ada tiga kesesatan fatal yang dilakukan oleh pelaku dalam memanipulasi jamaahnya.
Kiai Cholil menjelaskan sesuai dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Kedatangan Imam Mahdi ditegaskannya memang diyakini akan terjadi di akhir zaman menjelang turunnya Nabi Isa. Namun, figur suci tersebut memiliki karakteristik dan garis keturunan yang jelas, yakni berasal dari keturunan dari Putri Nabi Muhammad SAW, Siti Fatimah.
“Memang Imam Mahdi itu dalam keyakinan Islam akan datang pada akhir zaman. Tapi ketika dia mengaku sebagai Imam Mahdi, itu sudah jelas merupakan kesalahan dan kesesatan,” tegas Kiai Cholil dikutip Kamis (29/10/2026).
“Wong dirinya sendiri tidak tahu pada takdirnya sendiri, bagaimana bisa tahu pada takdir orang lain? Kalau tahu, saya pikir nggak bakalan dia nipu dan akhirnya dilaporkan ke polisi,” ujarnya.
Kesesatan ketiga bermuara pada pengerukan materi secara zalim. Pelaku menggunakan kedok agama, seperti dalih penebusan dosa, jaminan umur panjang, hingga keselamatan keluarga, untuk memaksa korban menyetor uang secara bertahap. Kultus individu yang berlebihan ini dimanfaatkan secara sistematis hingga meraup pundi-pundi miliaran rupiah.
Nahasnya, Pria Madura yang mengaku imah mahdi ini hanyalah ahli waris dari sebuah majelis pengajian yang dulunya dirintis dengan niat baik oleh orang tua dan kakaknya. Ketika estafet kepemimpinan jatuh ke tangannya yang miskin ilmu dan tidak memiliki sanad agama yang lurus, majelis tersebut dibelokkan menjadi arena indoktrinasi sesat.
“Dulu para kiai adalah orang alim yang memberi ajaran-ajaran yang baik. Tapi itu dimanfaatkan oleh orang yang tidak alim dengan cara menghegemoni masyarakat seakan-akan dia kiai,” ungkap Kiai Cholil.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber