
PELAIHARI, Poros Kalimantan – Sebuah sumur tua di Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tampak terbengkalai. Bangunan kamar mandi di sampingnya telah roboh. Hanya tersisa pecahan genteng, bak semen, dan jamban yang menjadi saksi bisu sebuah peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia.
Di lokasi inilah Munawar Musso, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), dilaporkan tewas ditembak pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada Minggu, 31 Oktober 1948.
Musso merupakan salah satu tokoh sentral dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pemberontakan PKI Madiun 1948. Setelah gerakan tersebut berhasil dipukul mundur, ia melarikan diri ke wilayah Ponorogo untuk menghindari kejaran pasukan pemerintah.
Dalam pelariannya, Musso disebut menyamar sebagai pedagang buah di Desa Semanding. Namun, identitasnya akhirnya terbongkar. Ia kemudian berlari menuju kamar mandi milik seorang warga bernama Haji Sidik.
Dalam kondisi terdesak, Musso dilaporkan menolak menyerah. Pasukan yang mengejarnya kemudian melepaskan tembakan hingga ia tewas di sekitar jamban.
Beberapa hari setelah kejadian, warga menemukan bercak darah di sekitar sumur tersebut. Kisah mengenai tewasnya Musso di Desa Semanding turut dicatat oleh Harry A. Poeze, peneliti asal Belanda, dalam bukunya berjudul Madiun 1948: PKI Bergerak.
Musso lahir di Kediri pada 1897. Ia digambarkan bertubuh pendek, gemuk, dan kekar, dengan pembawaan seorang pemimpin. Ia juga dikenal sebagai salah satu murid H.O.S. Tjokroaminoto serta memiliki kemampuan berpidato dengan gaya lugas dan agitasi politik yang kuat.
Dalam perjalanan politiknya, Musso bersama Amir Sjarifuddin menghimpun dukungan di sejumlah daerah, antara lain Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber