Wayang Topeng Malang merupakan seni pertunjukan tradisional, dari Malang Jawa Timur. Kesenian ini termasuk dramatari karena memadukan drama, tari, musik, dialog, dan cerita. Para penari mengenakan topeng untuk memerankan tokoh tertentu. Bentuk dan warna topeng menggambarkan karakter, yang berbeda sehingga penonton dapat mengenali, watak tokoh melalui penampilannya.

Salah satu sumber cerita penting dalam, Wayang Topeng Malang adalah kisah Panji. Tokoh yang dikenal antara lain Panji Asmarabangun, Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana, Gunungsari, Ragil Kuning, Klana Sewandana, dan Bapang. Setiap tokoh memiliki peran masing-masing dalam jalannya cerita. Dalam ceramahnya, Ki Saleh Adi Pramono juga menyebutkan bahwa Wayang Topeng Malang memiliki empat kelompok cerita, salah satunya Katenggungan.

Cerita Panji merupakan warisan sastra Nusantara, yang berkembang di Jawa. Kisahnya berpusat pada perjalanan Panji Asmarabangun, dan Dewi Sekartaji dalam menghadapi berbagai rintangan hingga dipertemukan kembali. Dalam penjelasan Ki Saleh, Panji digambarkan memiliki kemampuan dalam seni pertunjukan, kebudayaan, filsafat, dan strategi. Kitab Wangbang Wideya juga disebut sebagai salah satu sumber sastra yang berkaitan dengan tradisi Panji.

Istilah Panji telah ditemukan dalam prasasti dari masa Kediri. Namun, hal itu tidak berarti seluruh cerita Panji sudah terbentuk pada masa tersebut. Cerita Panji berkembang semakin luas pada masa Majapahit, terutama sekitar abad ke-14 hingga ke-15. Kisah ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara, seperti Bali, Semenanjung Melayu, Thailand, Kamboja, dan Myanmar melalui perdagangan, pertukaran budaya, serta pertunjukan.

Malang dikelilingi pegunungan, seperti Semeru, Bromo, Tengger, Anjasmoro, Welirang, Kawi, Arjuno, dan Kelud. Kondisi alam tersebut turut membentuk kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Dalam masyarakat Tengger, misalnya, dikenal upacara Yadnya Kasada atau Labuh Bromo dan Entas-entas yang berkaitan dengan penghormatan terhadap alam dan leluhur. Menurut Ki Saleh, kepercayaan masyarakat pegunungan juga menjadi salah satu latar perkembangan pertunjukan bertopeng yang memiliki unsur ritual.

Sejarah Malang tidak dapat dilepaskan dari Kerajaan Kanjuruhan, yang berkembang sekitar abad ke-8 Masehi. Salah satu rajanya adalah Gajayana, yang namanya tercatat dalam Prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Prasasti tersebut menceritakan pembangunan tempat suci untuk Agastya. Arca yang semula dibuat dari kayu cendana kemudian diganti dengan arca batu pada masa Gajayana. Candi Badut di wilayah Karangbesuki juga menjadi peninggalan penting dari masa awal sejarah Malang. Namun, peninggalan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Wayang Topeng telah hadir dalam bentuk seperti sekarang pada masa itu.

Ki Saleh Adi Pramono menjelaskan bahwa, pertunjukan bertopeng pada masa awal memiliki hubungan, dengan ritual dan penghormatan kepada leluhur. Topeng kayu dipandang memiliki makna, simbolis dalam kepercayaan masyarakat. Dalam kegiatan ritual, doa atau puja dapat diiringi musik tradisional, yang disebut gongso atau gangsa. Ki Saleh menyebut tiga nada, yaitu ji, nem, dan mo, serta mengaitkan perkembangan nada, dengan konsep lima arah atau pancer lima. Penjelasan ini memperlihatkan hubungan antara musik, gerak, dan kepercayaan dalam tradisi pertunjukan.

Pada masa Singosari, Raja Kertanegara menjalankan Ekspedisi Pamalayu yang secara umum, dikaitkan dengan tahun 1275 Masehi. Setelah Singosari runtuh, Majapahit berdiri pada 1293 Masehi. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, sekitar abad ke-14, kehidupan seni dan budaya berkembang. Kakawin Nagarakretagama menjadi salah satu sumber penting untuk melihat, kehidupan istana dan kegiatan seni pada masa Majapahit. Cerita Panji pun semakin dikenal dan digunakan dalam berbagai pertunjukan.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *