
Pemerintah mengendalikan produksi batu bara nasional untuk menghentikan tren penurunan harga sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara di sektor pertambangan.
Langkah ini diambil setelah pasokan batu bara Indonesia yang mencapai 43 persen dari total perdagangan dunia pada tahun lalu justru memicu kelebihan pasokan (oversupply), serta menekan profitabilitas industri dan pendapatan negara.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, koreksi volume produksi terbukti efektif mendongkrak Harga Batubara Acuan (HBA) hingga menyentuh level 154 dolar AS per ton pada tahun ini.
“Jadi produksinya terkoreksi, turun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten. Gak dijual murah barang kita,” kata Bahlil saat membuka Mineral dan Batubara Convention – Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (2/11).
Ia menjelaskan, konsumsi batu bara dunia mencapai sekitar 8,9 miliar ton per tahun, sementara yang diperdagangkan antarnegara sekitar 1,3 miliar ton. Pada 2025, Indonesia memasok sekitar 540 juta ton, atau setara 43 persen pasokan dunia.
Besarnya pasokan itu tidak berbanding lurus dengan keuntungan. Profit perusahaan tidak terlalu besar dan pendapatan negara tidak maksimal. Menurut Bahlil, pembukaan lahan tambang yang masif membuat batu bara Indonesia akhirnya dijual murah.
Bahlil mengaku sempat berupaya menaikkan harga acuan, namun tidak diindahkan pasar. Pemerintah kemudian memilih menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan lewat kontrol produksi. Hasilnya, harga batu bara tahun ini bisa mencapai US$154 per ton.
“Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan. Jangan seperti orang yang baru puasa, tiba-tiba buka puasa, apa aja yang mau dimakan,” ujarnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber