BANYUWANGI – Inflasi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tercatat 2,69 persen secara tahunan pada September 2026, terendah di Jawa Timur (Jatim) dan lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 3,28 persen.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan capaian tersebut didukung koordinasi lintas sektor melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sehingga kebijakan pengendalian harga dapat dilakukan secara cepat dan terarah.

“Ini adalah hasil kinerja super tim, kerja kolaboratif lintas sektor mulai dari hulu hingga hilir, kelancaran distribusi, hingga keterjangkauan harga di pasar. Kami sampaikan apresiasi dan terima kasih atas sinergi dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga inflasi daerah,” kata Ipuk di Banyuwangi, Kamis (5/11).

Ia mengatakan tingkat inflasi Banyuwangi tersebut juga lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Jawa Timur yang mencapai 3,33 persen pada periode yang sama.

Ipuk menyampaikan pemerintah daerah akan terus memperkuat koordinasi dan kinerja TPID melalui penguatan empat aspek utama atau 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Upaya tersebut juga didukung alokasi anggaran melalui APBD serta penguatan sinergi dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.

Ia memastikan berbagai inovasi pengendalian inflasi dilaksanakan dengan indikator terukur agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Harga bahan pokok yang stabil, daya beli masyarakat terjaga, serta inflasi Banyuwangi tetap berada dalam sasaran target nasional,” kata Ipuk.
 

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *