/data/photo/2026/11/07/6aeef6314ff44.jpg)
KOMPAS.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung pengembangan industri kreatif batik Banyuwangi, Jawa Timur, melalui kolaborasi penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK).
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat ekosistem usaha batik, memperluas akses layanan keuangan, serta membuka peluang pasar bagi perajin dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal.
Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan, perpaduan BBF dan BIK menjadi salah satu upaya untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan di masyarakat, khususnya pelaku industri kreatif.
Menurutnya, pengembangan industri batik membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perajin, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga masyarakat sebagai konsumen produk lokal.
“Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah,” ujar Aris dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (7/11/2026).
Ia berharap, kolaborasi BIK dengan Banyuwangi Batik Festival yang telah berlangsung selama dua kali penyelenggaraan tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan dampak bagi masyarakat Banyuwangi, terutama para perajin batik.
Tahun ini, BBF kembali digelar di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6-8 November 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali diadakan pada 2013, festival tersebut mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan, BBF telah berkembang menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memperkuat ekosistem usaha batik di daerah.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber