Sebelum dikenal sebagai pemilik Galeri Batik Tulis Al-Huda, Nurul Huda hanyalah seorang pelajar SMA yang mencoba mengembangkan usaha dengan modal Rp50.000. Kini, setelah lebih dari empat dekade berlalu, perjalanan tersebut membawanya menjadi salah satu perajin yang aktif menjaga keberlangsungan batik tulis Sidoarjo.

Bukan hanya memproduksi batik, Huda juga membuka pelatihan, menciptakan lapangan pekerjaan hingga memberi kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

Saat ditemui Ngopibareng.id di Galeri Batik Tulis Al-Huda, kompleks Perumahan Sidokare Asri, Desa Sepande, Sidoarjo, Sabtu, 26 September 2026, Nurul Huda mengenang awal perjalanannya membatik pada 1982.

Kala itu, ia masih duduk di kelas II SMA. Modal Rp50.000 yang diberikan keluarga menjadi titik awalnya mengenal dunia usaha batik.

“Rp50.000 itu kalau dibelikan kain untuk baju dapat 14. Lain-lainnya saya harus mencari sendiri,” kata Huda.

Belum memiliki kemampuan desain maupun pemasaran, ia tetap mencoba memproduksi batik secara sederhana. Hasilnya kemudian ditawarkan kepada guru-gurunya di sekolah. Dari penjualan tersebut, Huda bisa membantu membayar biaya pendidikan hingga melanjutkan kuliah.

Perjalanan itu berlanjut ketika ia menjadi mahasiswa. Setelah lulus, Huda sempat menjadi asisten dosen selama sekitar enam bulan sebelum kemudian diangkat menjadi dosen. Namun, dunia akademik tidak membuatnya meninggalkan batik.

Ia justru terus mengembangkan usaha tersebut. Dari awalnya bekerja sendiri, Huda mulai mengajak dua orang untuk membantu proses mencanting dan pewarnaan. Usaha kecil itu perlahan tumbuh. Pemasarannya meluas dari Sidoarjo ke Surabaya, Madura, Malang, hingga sejumlah daerah lainnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *