
JAVASATU.COM- Perupa muda asal Sanggar DAUN Surabaya, Malya Sasmaya, menggelar pameran tunggal bertajuk “Dialog Batik Madura” di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
Pameran yang dibuka untuk umum dan gratis tersebut menampilkan karya Malya yang lahir dari hasil observasi selama satu tahun di sentra Batik Tulis Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura. Sebanyak 20 karya baru dihasilkan dari proses tersebut, dengan delapan karya ditampilkan dalam pameran karena keterbatasan ruang galeri.
Malya, yang kini berusia 17 tahun, mengolah cat akrilik dan kolase batik tulis Madura, terutama motif Tanjung Bumi, di atas kanvas. Pameran ini menjadi pameran tunggal pertamanya setelah sejumlah karya Malya tampil di berbagai ajang seni, termasuk ARTJOG KIDS 2023 dan pameran di Look and Learn Gallery London.
“Awalnya aku cuma suka warnanya. Merah Madura itu berani banget, beda dari batik lain. Tapi setelah aku ke Tanjung Bumi dan ketemu langsung ibu-ibu pembatiknya, aku baru paham,” kata Malya.
Dalam proses observasinya, Malya menemukan cerita para pembatik perempuan yang masih mempertahankan tradisi membatik, sementara keberlanjutan profesi tersebut menghadapi tantangan regenerasi.
“Mereka membatik dari jam 4 pagi sampai malam, dengan mata yang sudah tidak terlalu melihat, tapi tangannya masih hafal setiap cecek dan motif ayam alas. Mereka cerita, anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mau melanjutkan karena tidak menjanjikan uang,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar pertanyaan yang dibawa Malya dalam pamerannya: apakah budaya merupakan sesuatu yang otomatis diwariskan atau sesuatu yang harus dipilih untuk dijaga.
“Di situ aku jadi bertanya, apa budaya itu sesuatu yang otomatis kita warisi, atau sesuatu yang harus kita pilih untuk kita jaga?,” kata dia, bernada tanya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber