
SURABAYA (Kabarjawatimur) – Upaya meramaikan Sentra Wisata Kuliner (SWK) di Kota Surabaya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah dan para pedagang, tetapi juga
SURABAYA (Kabarjawatimur) – Program Kampung Pancasila kembali digelorakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Tak sekadar menjadi ajang perlombaan antarwilayah, program tersebut diarahkan menjadi ruang untuk
SURABAYA (Kabarjawatimur) – Program Kampung Pancasila kembali digelorakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Tak sekadar menjadi ajang perlombaan antarwilayah, program tersebut diarahkan menjadi ruang untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong, kepedulian sosial, toleransi, hingga kemandirian masyarakat.
Pemkot Surabaya menempatkan gotong royong sebagai salah satu ruh utama program, dengan mendorong warga ikut menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan lomba tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari seperti, gotong royong dan sikap saling membantu yang perlu terus dijaga di tengah masyarakat.
“Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya,” kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi usai peluncuran lomba Kampung Pancasila di Balai Kota Surabaya.
Agenda Pemkot Surabaya itu diapresiasi Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia.
Sebelumnya, saat bertemu dengan Cak Eri di Balai Kota Surabaya, Ning Lia menyebut keberlangsungan bangsa sangat bergantung pada sejauh mana nilai-nilai Pancasila dijalankan dalam tindakan.
“Kampung Pancasila sebagai bentuk konkret penerapan nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, saya Surabaya dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghidupkan nilai Pancasila di tingkat Masyarakat,” kata Ning Lia, yang juga senator asli Surabaya tersebut.
Sebab, Pancasila dalam konteks ini tidak ditempatkan hanya sebagai materi pendidikan kewarganegaraan atau simbol kenegaraan.
Nilainya diterjemahkan menjadi tindakan sosial: membantu tetangga, menjaga lingkungan, membangun toleransi, menguatkan ekonomi warga, serta menyelesaikan persoalan bersama.
Di titik inilah pemikiran Ning Lia tentang keberlangsungan bangsa dapat dibaca lebih jauh.
Keberlangsungan bangsa bukan hanya persoalan kuatnya institusi negara. Ada pula dimensi masyarakat sipil atau civil society yang menjadi kekuatan sosial di luar struktur pemerintahan.
Negara membuat kebijakan dan menyediakan ruang. Namun, kebijakan tersebut membutuhkan masyarakat yang mau terlibat, memiliki kepedulian, serta mempunyai rasa percaya terhadap institusi negara.
Dalam pandangan Ning Lia yang disampaikan dalam forum kebangsaan bersama pemuda, masyarakat perlu ditempatkan sebagai agen keberlangsungan bangsa.
Ning Lia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai siklus sosial dan potensi disintegrasi ketika hubungan emosional antara masyarakat dengan negara melemah.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber