
Mojokerto (beritajatim.com) – Setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan, angka kesakitan penduduk Kabupaten Mojokerto kembali meningkat pada 2025. Berdasarkan hasil Susenas Maret 2025, angka kesakitan mencapai 14,08 persen, atau sekitar 141 dari setiap 1.000 penduduk mengalami keluhan kesehatan yang dirasakan berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny mengatakan, angka kesakitan tersebut menggambarkan penduduk yang dalam satu bulan terakhir mengalami keluhan kesehatan yang berdampak pada kegiatan seperti bekerja, sekolah maupun aktivitas lainnya. “Pada 2025, angka kesakitan penduduk Kabupaten Mojokerto sebesar 14,08 persen,” ungkapnya, Rabu (30/9/2026).
Angka tersebut berbalik dari tren sebelumnya. Pada 2022 hingga 2024, angka kesakitan terus menurun. Data BPS mencatat angka kesakitan pada 2022 sebesar 14,16 persen, turun menjadi 11,36 persen pada 2023 dan kembali turun menjadi 10,11 persen pada 2024. Pada 2025, angka kesakitan kembali meningkat 3,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS menyebut sejumlah faktor dapat mempengaruhi kondisi tersebut, antara lain gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik serta kurang tidur. Faktor lingkungan, sanitasi, stres dan kesehatan mental, serta akses dan kesadaran terhadap pelayanan kesehatan juga turut menjadi perhatian.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, angka kesakitan penduduk perempuan tercatat 0,77 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kondisi ini antara lain dapat dipengaruhi stres dan gangguan kecemasan, pola makan yang kurang sehat serta kurangnya waktu istirahat. Temuan menarik muncul ketika angka kesakitan dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran rumah tangga.
Pada 2025, kelompok 20 persen penduduk dengan pengeluaran per kapita tertinggi justru mencatat angka kesakitan paling tinggi, yakni 16,21 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya tingkat pengeluaran tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas. Pola hidup, pola konsumsi, aktivitas fisik dan kebiasaan sehari-hari tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka kesakitan adalah memperkuat penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan rumah tangga,” katanya.
PHBS antara lain mencakup persalinan yang ditolong tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, pemantauan pertumbuhan bayi dan balita, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan air bersih dan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, mengonsumsi buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik setiap hari, serta tidak merokok di dalam rumah.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber