
Ia menyebut tindakan menampar siswa terjadi karena emosi sesaat saat dirinya berupaya mendisiplinkan siswa yang tidak mengenakan pakaian adat lurik.
Amrozi mengatakan penggunaan pakaian adat Jawa bermotif lurik setiap Kamis telah disosialisasikan kepada siswa sejak awal tahun ajaran 2026/2027. Menurutnya, pihak sekolah juga telah memberikan toleransi sekitar satu bulan sebelum kejadian.
Namun, pada Kamis (24/9/2026), ia masih menemukan sejumlah siswa yang tidak mengenakan lurik. Amrozi menyebut para siswa memberikan berbagai alasan, seperti pakaian masih dibeli, dicuci, hingga hilang.
“Alasan itu bagi saya gak sesuai dengan hati nurani saya. Kenapa kok seperti itu? Kalau dibiarkan itu bisa berdampak buruk. Sehingga saat itu terpancing (emosi) sehingga akhirnya tindakan itu terjadi,” ungkap Amrozi, Selasa (29/9/2026).
Amrozi mengakui tindakannya tersebut. Ia mengatakan tidak memiliki niat untuk menyakiti siswa dan menyebut kejadian itu sebagai kekhilafan karena terbawa emosi saat memberikan disiplin.
“Tidak ada niatan, itu kekhilafan saya, emosional sesaat yang kemudian terjadi peristiwa itu. Tidak ada niatan lain kecuali anak anak saya itu menjadi baik,” ujarnya.
Atas kejadian tersebut, Amrozi menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang merasa menjadi korban, orang tua, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, serta Pemerintah Kota Malang.
Ia juga menyebut peristiwa yang terekam kamera dan kemudian beredar luas di media sosial menjadi bahan introspeksi bagi dirinya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber