
Jawa Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berada di jalur tektonik aktif. Pesisir selatan Jawa berhadapan langsung dengan zona subduksi, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Sunda.
Aktivitas di zona tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya gempa di selatan Jawa Timur. Sepanjang 2026, BMKG mencatat sejumlah gempa, di antaranya M 6.2 di laut tenggara Pacitan pada 6 Februari, M 5.3 di lokasi yang hampir sama pada 27 Juni, dan M 5.0 di selatan Malang pada 14 September.
Zona subduksi selatan Jawa adalah bagian dari sistem subduksi Sunda. Di zona ini, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (Lempeng Sunda), yang menjadi tempat Pulau Jawa berada.
Secara sederhana, lempeng samudra yang lebih padat bergerak masuk ke bawah lempeng benua yang lebih ringan di sepanjang zona yang membentang di lepas pantai selatan Jawa.
Proses ini berlangsung terus-menerus selama jutaan tahun dan menjadikan sistem subduksi Sunda sebagai salah satu sumber utama gempa tektonik di selatan Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur.
Saat dua lempeng saling bergesekan, permukaannya tidak selalu bergerak dengan mulus. Pada kondisi tertentu, kedua lempeng dapat saling mengunci (locking) untuk sementara waktu.
Selama masa penguncian itu, tekanan terus terakumulasi di bidang pertemuan kedua lempeng, yang disebut interface. Ketika kuncian itu akhirnya terlepas, energi yang telah lama terakumulasi dilepaskan sekaligus dan memicu gempa bumi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Gempa yang terjadi pada zona penunjaman ini dikenal sebagai gempa megathrust. Jika pelepasan energi terjadi di laut dangkal dan menyebabkan dasar laut bergerak secara vertikal, gempa megathrust berpotensi memicu tsunami.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber