SURABAYA(Kabarjawatimur) – Jalur formal yang tak kunjung mendapat respons membuat pedagang Pasar Buah Tanjungsari persil 77 memilih cara lain untuk menyampaikan aspirasi. Sebuah baliho

SURABAYA — Anggota Komisi A DPRD Surabaya sekaligus Ketua Fraksi PKS, Cahyo Siswo Utomo, menyoroti belum meratanya pemahaman generasi muda terhadap program dan dukungan

SURABAYA (Kabarjawatimur) — Hak memperoleh pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Surabaya. Hal itu terungkap saat Anggota DPRD Surabaya Johari Mustawan menyerap aspirasi warga di Dukuh Gemol, Kecamatan Wiyung. Sedikitnya tujuh anak usia sekolah diketahui telah putus sekolah, dengan empat di antaranya berasal dari satu keluarga.

Yang lebih memprihatinkan, beberapa anak tersebut masih mengalami kesulitan membaca dan menulis. Mereka berada pada rentang usia SD hingga SMA dan belum mendapatkan pendidikan alternatif maupun homeschooling.

Temuan tersebut terungkap dalam Reses Masa Sidang Ketiga Tahun Persidangan Pertama 2026, Senin (5/10/2026).

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena upaya pendampingan dari lingkungan sekitar juga menghadapi kendala. Pengurus RT/RW disebut kesulitan berkomunikasi dengan keluarga lantaran orang tua anak-anak tersebut cenderung tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga.

Padahal, kelurahan setempat telah melakukan intervensi dengan menyediakan taman baca di rumah keluarga tersebut. Fasilitas itu disiapkan untuk membantu anak-anak mendapatkan pendampingan membaca dan menulis.

Namun, program tersebut belum berjalan secara rutin karena akses komunikasi dengan keluarga masih terbatas.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *