
Surabaya (beritajatim.com) – Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur membantah riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Riset tersebut menyebut rokok elektrik memicu 100 persen diabetes.
Ketua Umum APVI, Budiyanto, mempertanyakan parameter pengukuran kajian tersebut. Menurutnya, temuan itu bertolak belakang dengan kondisi nyata para pengguna di lapangan saat ini.
“Jika disebut 100 persen diabetes, berarti semua pengguna saat ini punya diabetes. Setelah kita cek dari sisi pengusaha dan pelaku industri, sejauh ini tidak ada yang mengalami hal tersebut,” kata Budiyanto di Surabaya, Selasa (6/10/2026).
Asosiasi kini mengirimkan surat resmi kepada lembaga negara itu. Mereka meminta audiensi terbuka untuk membedah metodologi dan data evaluasi yang digunakan secara transparan.
“Kami ingin mengetahui parameter yang digunakan agar kita bisa berdiskusi. Jangan sampai kita menyimpulkan regulasi yang tidak pasti dan merugikan industri,” jelas Budiyanto.
“Kadar glukosa atau pemanis dalam rokok elektrik itu sangat sedikit. Menurut kami itu tidak logis. Pernyataan dari BRIN itu perlu dikaji lebih mendalam,” tegas Adik.
Adik mengingatkan pemerintah agar berhati-hati merumuskan kebijakan berbasis kajian sepihak. Ia khawatir regulasi yang mematikan sektor ini akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja.
“Serapan tenaga kerjanya sudah pasti di atas 100.000 orang. Jika terjadi regulasi yang mematikan, yang dirugikan bukan hanya pengusahanya, tapi juga banyak tenaga kerja,” urai Adik.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber