TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Sampah makanan menjadi persoalan besar di tengah upaya Kota Malang, Jawa Timur, memperkuat ketahanan pangan. 

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Jawa Timur, mencatat, sampah pangan sedikitnya mencapai 300 ton setiap hari.

Sebagai kota tujuan wisata, tempat kuliner begitu banyak di Kota Malang. Sisa-sisa makanan dari tempat kuliner juga memberi pengaruh terhadap jumlah sampah makanan.

Besarnya timbulan tersebut membuat makanan yang terbuang tidak cukup hanya dipandang sebagai persoalan sampah.

Dispangtan Kota Malang mendorong agar sisa pangan kembali masuk dalam siklus produksi melalui pengolahan menjadi pupuk organik hingga pakan ikan dan ternak.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, Elfiatur Roikhah mengatakan hal itu, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, pemanfaatan kembali sisa pangan menjadi bagian dari pendekatan circular economy atau ekonomi sirkular yang mulai diterapkan dalam kegiatan pertanian perkotaan di Kota Malang.

Angka yang disampaikan Elfiatur tersebut mencakup food loss dan food waste. Food loss adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan produk makanan gagal. Misal, sayuran yang membusuk sebelum dikonsumsi. Sedangkan food waste  adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sisa makanan. Misal, sisa makanan di piring yang kemudian dibuang menjadi sampah.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *