
Ia masih ingat ketika usaha itu pertama kali tumbuh di lingkungannya, Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan, Blitar. Saat itu, sekitar 1984 hingga 1985, ayam petelur mulai dikenal dan berkembang di tengah masyarakat.
Bagi Suryono, beternak ayam petelur bukan sesuatu yang langsung menjanjikan hasil besar. Ia memulainya dari bawah dengan hanya 500 ekor ayam.
Kandang yang dulu hanya berisi ratusan ekor kini berkembang menjadi sekitar 10.000 ekor. Di antara ribuan ayam yang terus menghasilkan telur setiap hari itu, Suryono menyaksikan sendiri bagaimana sebuah usaha kecil perlahan tumbuh menjadi bagian dari ekosistem peternakan rakyat yang besar di Blitar.
“Kalau di lingkungan saya, ayam petelur itu mulai masuk dan berkembang di kisaran tahun 1984 sampai 1985,” kenangnya.
Empat dekade kemudian, Suryono masih berada di kandang yang menjadi bagian dari perjalanan panjang itu. Tetapi kali ini tantangannya berbeda.
Harga pakan terus menekan biaya produksi. Jagung giling yang menjadi salah satu bahan utama pakan mencapai Rp8.000 per kilogram. Dedak standar separator berada di angka Rp6.500 per kilogram, sedangkan konsentrat pabrikan menembus Rp9.000-an per kilogram.
Di sisi lain, harga telur justru berada jauh di bawah harga acuan pemerintah yang berada di kisaran Rp24.000-Rp26.000 per kilogram. Peternak hanya memperoleh harga jual sekitar Rp19.500 per kilogram.
“Sampai saat ini, permasalahan pun belum ada solusi yang bersifat permanen dan jangka panjang. Solusi yang diberikan pemerintah selama ini selalu bersifat parsial (setengah-setengah),” kritik tajam Suryono, menyayangkan lambatnya intervensi negara.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber