
jatimnow.com – DPC Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Blitar Raya menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diksar) di Pendopo Sasana Adhi Praja Kabupaten Blitar, pada akhir pekan lalu. Langkah ini diambil guna menjawab tantangan maraknya kecenderungan individualistis di kalangan generasi Z.
Agenda pembinaan ini dirancang untuk menggembleng mental, daya kritis, serta kepedulian sosial para pelajar. Mengusung tema “Membentuk Pelajar Nasionalis, dan Berkarakter Pancasila”, kegiatan ini memadukan sejarah perjuangan bangsa dengan dinamika khas remaja masa kini.
Sederet materi relevan disajikan sepanjang pelatihan. Mulai dari sejarah keorganisasian, kesehatan mental, gerakan anti-perundungan (anti-bullying), re-definisi Marhaenisme digital, hingga penguatan nilai dasar kaderisasi.
Pada sesi awal, Aryo Bimo Soebagio membedah sejarah GSNI yang berdiri sejak 2 Januari 1959. Organisasi independen ini berakar pada Pancasila 1 Juni, Marhaenisme, dan Sosio-Nasionalisme untuk memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan serta membangun kesadaran nasional.
Isu kesehatan mental dan perundungan dikupas interaktif oleh Putri Cinta Mei. Mengutip pemikiran Bung Karno dalam buku Sarinah, Putri mengajak peserta terlibat dalam Writing Healing hingga tantangan harian Challenge 7 Hari Anti-Kurungan.
“Stop mengurung potensi diri. Jadikan kesehatan mental sebagai bentuk perjuangan hari ini, dan pahami bahwa laki-laki serta perempuan adalah dua sayap yang sama pentingnya,” tegas Putri.
Relevansi ajaran Bung Karno di era digital turut dibahas oleh Rangga Bisma Aditya. Menurutnya, sosok Marhaen saat ini bertransformasi menjadi pekerja gig, kurir digital, hingga kreator muda yang rentan dalam sistem ekonomi modern.
Sementara itu, Joko Pramono, menekankan pentingnya nasionalisme sehat untuk menangkal chauvinisme. Di sisi lain, M. Abdur Roziqin mengaitkan pengamalan Pancasila di ruang digital melalui aksi membasmi hoaks dan menolak cyberbullying.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber