
Para anggota Panti Budaya Pamekasan latihan pentas wayang kulit Madura di area Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Selasa (6/10/2026). (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).
Kesenian Wayang Kulit di Pamekasan sudah memasuki masa menopause, perlu adanya regenerasi untuk membangkitkan kembali budaya warisan leluhur itu.
ANGIN malam berembus cukup kencang ketika bulan menggantung di langit Pamekasan, Selasa (6/10/2026). Di tengah suasana malam yang tenang, suara gamelan perlahan memecah kesunyian dari kompleks Vihara Avalokitesvara, Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis.
Bukan ritual keagamaan yang sedang berlangsung. Di salah satu bangunan yang menyerupai pendopo, sejumlah pegiat seni tengah berlatih pementasan wayang kulit Madura.
Di tempat itu, kesenian yang telah hidup ratusan tahun tersebut berusaha tetap bernapas. Di tengah perubahan zaman dan semakin minimnya minat generasi muda, para pegiatnya berupaya menjaga agar wayang kulit Madura tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Beberapa perangkat gamelan tertata rapi di sudut ruangan. Kendang, bonang, kenong, gong, kempul dan sejumlah instrumen lainnya ditutup kain merah agar terlindung dari debu.
Malam itu, alat-alat musik tersebut kembali dimainkan. Tabuhan kendang menjadi penanda dimulainya latihan. Suara gamelan kemudian mengalun, mengiringi para pemain yang sedang mempersiapkan pementasan.
Di antara mereka terdapat Ketua Vihara Avalokitesvara sekaligus Ketua Sanggar Panti Budaya Kosala Mahinda dan seorang dalang bernama Dirman.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber