Provinsi Jawa Timur (Jatim) dengan Kota Surabaya-nya punya sejarah panjang menjadi dalam perekonomian Nusantara. Bahkan, Bumi Majapahit ini punya jejak panjang sebagai pusat ekonomi, perkebunan, dan industri sebelum Batavia yang kini menjadi Jakarta ditetapkan sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan.

Hal itu diungkapkan Prof. Dr. Purnawan Basundoro, Guru Besar Sejarah Perkotaan Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Surabaya. Ia mengatakan, posisi strategis yang dinobatkan kepada Jatim hari ini, tak bisa lepas dari sejarah panjang kawasan ini sejak masa kerajaan.

Menurut Prof. Basundoro sapaan akrabnya, sejarah Jatim bisa dirunut sejak Empu Sendok memindahkan Kerajaan Mataram Kuno ke tanah ini dari Jawa Tengah, sekitar abad ke-10 atau tahun 928 Masehi akibat bencana alam, yakni letusan Gunung Merapi.

Setelah Mataram Kuno runtuh akibat serangan Raja Urawari pada 1016 Masehi, berdirilah Kerajaan Kahuripan di bawah Raja Airlangga pada 1019 Masehi. Kerajaan itu kemudian pecah menjadi Jenggala dan Kediri, sebelum akhirnya muncul Kerajaan Singosari dan Majapahit.

Berdirinya Majapahit pada 1293 itulah, yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting Jatim sebagai pusat kerajaan Nusantara. Bahkan, Surabaya berperan sebagai pintu gerbang perdagangan dan militer ke berbagai wilayah.

“Bahkan kan dipercaya bahwa Malaysia, Singapura, atau Temasik pada waktu itu itu juga merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Nah, inilah saya kira akar dari sejarah kita di Jawa Timur yang sedemikian strategis pada periode-periode yang lalu itu. Dan kalau kita sekarang ingin menjadikan Jawa Timur sebagai pintu gerbang Nusantara, saya kira, itu adalah sebuah pengulangan dari apa yang pernah dialami oleh Jawa Timur pada masa lalu,” kata Prof Basundoro saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (12/10/2026).

Dalam periode yang lebih modern, Jatim kembali berubah karena kebijakan politik kolonial. Batavia (Jakarta) memang dijadikan pusat kekuasaan oleh Belanda, tetapi secara ekonomi Surabaya punya posisi yang sangat kuat.

“Jadi, itu kan ada perjalanan politik dan juga kebijakan politik yang kemudian menjadikan Batavia yang kemudian berubah menjadi Jakarta itu sebagai pusat pemerintahan ya, sebagai pusat kekuasaan di Indonesia. Tetapi sebenarnya sebelum abad ke-20, Surabaya itu posisinya lebih besar daripada Batavia,” ujarnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *