
blokBojonegoro.com – Gamagora 7, varietas padi hasil pemuliaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang dirancang untuk menghadapi tantangan produksi di berbagai kondisi agroekologi, kini telah ditanam di sejumlah wilayah. Salah satunya oleh petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Gamagora 7 tercatat berhasil dibudidayakan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan hingga di pulau Enggano Bengkulu. Varietas ini menonjol melalui umur panen yang lebih singkat dan performa yang stabil di berbagai lokasi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa inovasi dari ruang riset dapat tumbuh menjadi solusi yang diadopsi masyarakat.
Dikutip dari ugm.ac.id, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Taryono, menjelaskan bahwa Gamagora 7 dikembangkan untuk memberi alternatif varietas yang lebih adaptif bagi petani. Ia menyebut bahwa umur panen yang lebih cepat memberi ruang bagi petani untuk mengatur musim tanam secara lebih fleksibel. Karakter itu menjadi salah satu alasan varietas ini mendapat respons positif di berbagai daerah.
Menurut Taryono, kerja pemuliaan selalu bergerak mengikuti perubahan kondisi dan kebutuhan petani di lapangan. Gamagora 7 menjadi salah satu hasil yang mencerminkan respons terhadap dinamika tersebut, terutama ketika hasil pengujian menunjukkan stabilitas yang baik. “Harapan kami, varietas ini memberi manfaat nyata bagi petani di berbagai daerah,” kata Taryono.
Dalam satu sesi wawancara, Breeder UGM, Ir. Supriyanta, M.P., menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan panjang pengembangan Gamagora 7. Supriyanta menjelaskan ia menjalani proses seleksi dan evaluasi selama bertahun-tahun hingga karakter varietas ini terbentuk dengan lebih kuat. Setiap musim uji menghasilkan catatan baru yang membantu menentukan arah perbaikan varietas.
“Pemuliaan itu seperti memperbaiki kapal bocor, selama kecepatan kita memompa lebih besar dari air yang masuk, kapal akan tetap berjalan. Begitu juga pemuliaan, selalu ada tantangan, tapi kita harus terus bergerak,” ujarnya.
Supriyanta menekankan pentingnya interaksi langsung dengan petani untuk memahami sejauh mana varietas dapat menjawab kebutuhan di lapangan. Ia menyebut bahwa masukan dari petani memperkaya proses riset dan membantu memperkuat rekomendasi budidaya. Melalui pendampingan, peneliti dapat melihat bagaimana varietas beradaptasi dengan pola pengelolaan lahan yang berbeda.
Menurutnya, keberhasilan varietas bergantung pada hasil panen sekaligus kemudahan petani dalam membudidayakannya. Gamagora 7 menunjukkan karakter pertumbuhan yang cukup responsif terhadap berbagai kondisi lahan, sehingga memudahkan petani dalam proses pengelolaan. Pengalaman itu memberi keyakinan bahwa varietas ini dapat berkembang lebih luas.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber