:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/ilustrasi-MBG-yang-berlangsung-di-SDN-Kemayoran-I-Bangkalan-Madura.jpg)
TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP – Keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dalam memenuhi kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, masih menghadapi berbagai kendala, Senin (12/10/2026).
Satu di antara persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha ialah keterbatasan modal untuk memenuhi permintaan pasokan dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut diungkapkan Ali Mufi, peternak ayam petelur sekaligus pedagang telur eceran di Kecamatan Ganding, Sumenep.
Ia mengaku pernah mendapat kesempatan menyuplai telur ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), namun hanya sekali karena terbentur persoalan modal usaha.
Menurut Ali, produksi telur miliknya tidak mampu memenuhi kebutuhan dapur MBG, sehingga ia harus membeli tambahan stok dari peternak lain agar jumlah pasokan mencukupi.
Sementara uang dari mitra dapur SPPG baru diterima setelah telur diserahkan, bahkan terkadang baru cair beberapa hari kemudian.
“Kalau harus bayar di awal ke peternak, saya tidak punya modal besar. Sementara pembayaran dari mitra dapur SPPG baru diterima setelah barang diserahkan, kadang beberapa hari kemudian,” kata Ali Mufi di Sumenep, Senin (12/10/2026).
Akibatnya, ia kesulitan menyiapkan stok untuk pengiriman berikutnya ketika pembayaran sebelumnya belum diterima.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber