BANGKALAN, KOMPAS.com – Pertumbuhan industri rokok lokal di empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur turut mendongkrak semangat petani tembakau.

Ulama di Bangkalan sekaligus pendiri Paguyuban Petani, Pedagang dan Pengusaha Tembakau Madura (P4TM), KH Syafik Rofi’i mengatakan salah satu sosok yang berjasa atas kesejahteraan petani tembakau di Madura yakni Khairul Umam atau akrab disebut Haji Her.

Menurutnya, sebelum tembakau dari petani diserap oleh pabrik lokal, harga tembakau kering anjlok. Bahkan, harga per kilo tembakau hanya Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per kilo.

“Saat itu, harga anjlok karena dikirim ke pabrik rokok besar yang ada di Jawa. Jadi para calo ini ambil rokok dari petani di Madura dan dihargai dengan sangat murah,” ucapnya, Sabtu (19/9/2026).

Bahkan, menurutnya calo pabrik tembakau itu kerap mengintimidasi para petani agar menjual tembakaunya. Petani yang ketakutan menjual tembakau kering itu dengan harga yang sudah ditentukan calo.

“Calo itu biasanya akan menakut-nakuti dengan bilang gudang akan segera ditutup. Itu petani sudah takut, akhirnya tembakau dijual murah karena takut tidak laku,” imbuhnya.

Dari kondisi itu, menurut Kiai Syafik membuat Haji Her tergerak dan berunding bersama Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (Bassra).

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *