
SURABAYA (Kabarjawatimur) – Upaya meramaikan Sentra Wisata Kuliner (SWK) di Kota Surabaya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah dan para pedagang, tetapi juga
SURABAYA (Kabarjawatimur) — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, menyoroti penggunaan indikator desil dalam menentukan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ia menilai,
SURABAYA (Kabarjawatimur) — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, menyoroti penggunaan indikator desil dalam menentukan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ia menilai, pemetaan kesejahteraan warga tidak cukup hanya berdasarkan indikator yang terlihat secara fisik.
Menurut Lia, kepemilikan barang maupun kondisi tempat tinggal belum tentu secara otomatis menggambarkan kemampuan ekonomi seseorang. Sebab, terdapat masyarakat yang menempati rumah warisan, tetapi rumah tersebut bukan aset produktif dan bahkan dapat disertai beban utang.
“Sebetulnya kekayaan itu tidak bisa diukur hanya dengan barang. Tidak semua orang yang menempati rumah itu belum tentu miliknya. Bisa saja rumah warisan, tetapi rumah warisan tersebut meninggalkan utang dan bukan merupakan rumah yang layak huni,” ujar Lia.
Karena itu, ia menilai indikator dalam menentukan desil perlu melihat kondisi masyarakat secara lebih menyeluruh. Menurutnya, kondisi sosial ekonomi setiap keluarga memiliki karakteristik yang berbeda sehingga tidak tepat apabila seluruhnya dipukul rata menggunakan indikator yang sama.
Lia mencontohkan kondisi lingkungan tempat tinggal sebagai salah satu aspek yang dapat menjadi indikator. Misalnya, masyarakat yang tinggal di kawasan dengan akses air bersih yang memadai. Namun, menurutnya, indikator tersebut tetap perlu dilihat bersama faktor-faktor lain agar menghasilkan gambaran kondisi sosial ekonomi yang lebih utuh.
Ia menilai pemutakhiran data dan penentuan desil harus mampu menangkap kondisi riil masyarakat, bukan semata-mata berdasarkan apa yang tampak dari luar.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber