RRI.CO.ID, Pamekasan – Inovasi tanpa meninggalkan akar tradisi menjadi kunci utama pelestarian Batik Tulis Madura di tengah arus modernisasi. Pelaku Usaha batik Tulis Madura asal Pamekasan, Muhammad Aufal Fresky, secara konsisten memproduksi batik tulis otentik murni tanpa mencampurkannya dengan teknik cap maupun printing.
“Usaha keluarga yang saya kelola ini adalah secara turun-temurun, tetap mempertahankan motif pakem legendaris seperti Beras Tumpah dan Serat Kayu sebagai identitas utama,” ucapnya, Jumat, 2 Oktober 2026.
Meskipun memegang teguh pakem warisan leluhur, Aufal sapaan akrabnya menyadari pentingnya menyesuaikan diri dengan selera generasi muda agar batik tetap relevan digunakan sehari-hari. Ia mulai menghadirkan pilihan warna-warna cerah dan kekinian pada variasi batik kontemporer tanpa mengurangi nilai estetika lokalnya.
“Langkah ini diambil untuk mendobrak stigma lama bahwa batik tulis identik dengan pakaian mahal, kaku, dan hanya cocok untuk orang tua,” katanya.
Sebagai upaya edukasi publik, Aufal kerap berbagi informasi mengenai cara membedakan batik tulis otentik dengan batik cap. Karakteristik utama batik tulis terletak pada pola dan jarak motifnya yang tidak sepenuhnya presisi karena murni dikerjakan oleh jemari tangan manusia.
“Ketidaksempurnaan alami tersebut justru memberikan nilai keunikan dan keotentikan tinggi yang tidak sanggup ditiru oleh kerapian mesin pabrikan,” ujarnya, menambahkan.
Pada momentum Hari Batik Nasional, Aufal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membuktikan rasa bangga berbatik melalui aksi nyata. Langkah kecil seperti mempromosikan karya perajin lokal di media sosial atau berkunjung ke sentra kerajinan sangat berarti bagi keberlanjutan industri ini. Ia optimistis bahwa perhatian bersama terhadap kesejahteraan perajin akan menjaga nyala industri batik tulis Nusantara tetap lestari melintasi zaman.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber