SURABAYA(Kabarjawatimur) – Jalur formal yang tak kunjung mendapat respons membuat pedagang Pasar Buah Tanjungsari persil 77 memilih cara lain untuk menyampaikan aspirasi. Sebuah baliho

SURABAYA – Memasuki masa penjaringan aspirasi masyarakat, Anggota DPRD Kota Surabaya Sukadar, SH, menggelar reses di wilayah RW 14 Simo Gunung Kramat, Kelurahan Putat

SURABAYA – Penetapan desil kesejahteraan kembali menuai keluhan warga Surabaya. Sejumlah warga Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, mempertanyakan hasil pemeringkatan desil yang dinilai tidak mencerminkan kondisi ekonomi mereka di lapangan.

Keluhan tersebut disampaikan warga dalam kegiatan reses Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya, Anas Karno, di wilayah Nginden Jangkungan, Jumat (2/10/2026).

Salah satu warga, Erna Susanti, mengaku terkejut setelah mengetahui keluarganya tercatat dalam Desil 9. Padahal, menurut dia, keluarganya masih tinggal menumpang di rumah kerabat dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.

“Saya enggak merasa di Desil 9. Rumah saja masih numpang keluarga, satu kamar ditempati beberapa orang. Jangankan punya mobil, motor saja masih kredit. Tapi kok masuk Desil 9, saya juga heran,” ujar Erna saat menyampaikan aspirasi.

Bagi Erna, persoalan tersebut bukan sekadar angka dalam pendataan. Status desil dikhawatirkan berdampak terhadap akses keluarganya terhadap sejumlah program pemerintah yang menggunakan data kesejahteraan sebagai salah satu dasar penentuan penerima.

Kekhawatiran itu semakin besar karena anaknya hingga kini belum memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan yang disebut masih jauh dari upah minimum.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *