
Tahlilan sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial keagamaan sebagian masyarakat Jawa Timur, terutama ketika sebuah keluarga sedang berduka. Setelah seseorang meninggal, keluarga, tetangga, dan kerabat biasanya berkumpul untuk membaca doa, zikir, ayat Al-Qur’an, serta mendoakan orang yang telah meninggal.
Di saat yang sama, pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan belasungkawa dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Namun, tahlilan tidak hanya soal kebiasaan berkumpul setelah kematian.
Di baliknya terdapat sejarah panjang pertemuan antara tradisi masyarakat Jawa dan praktik keislaman di Nusantara. Bahkan, asal-usul dan status tahlilan masih menjadi pembahasan di kalangan umat Islam karena tidak semua kelompok memiliki pandangan yang sama terhadap tradisi tersebut.
Karena itu, memahami tahlilan di Jawa Timur tidak cukup hanya dari tata cara pelaksanaannya, tetapi juga dari sejarah, makna, dan fungsi sosial yang berkembang di masyarakat.
Secara bahasa, kata tahlil berasal dari bahasa Arab yang merujuk pada pengucapan kalimat lā ilāha illallāh, yang berarti tidak ada Tuhan selain Allah. Dalam masyarakat Jawa, istilah tahlilan kemudian berkembang menjadi sebutan untuk kegiatan keagamaan yang berisi tahlil, zikir, ayat Al-Qur’an, sholawat, dan doa.
NU Online menjelaskan secara istilah, tahlilan telah berkembang menjadi rangkaian bacaan zikir, ayat Al-Qur’an, doa, serta penyediaan makanan atau sedekah tertentu yang dilakukan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.
Dengan demikian, istilah “tahlilan” dalam konteks masyarakat Jawa memiliki pengertian yang lebih luas daripada sekadar membaca kalimat tahlil. Dalam praktiknya, bentuk tahlilan dapat berbeda-beda.
Ada keluarga yang mengadakan tahlilan secara sederhana dengan mengundang tetangga terdekat, sementara yang lain melibatkan lebih banyak kerabat dan masyarakat yang lebih luas.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber