Liputan6.com, Jakarta – Dampak musim kemarau panjang di Kabupaten Jember kian mengkhawatirkan. Sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) di Baratan Timur, Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, terpaksa hidup di tengah krisis air bersih setelah sumur dan sumber air alternatif di wilayah tersebut kering.

​Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengungkapkan, bahwa kekeringan parah di wilayah ini telah berlangsung sejak Agustus 2026. Situasi kian pelik karena sumur warga tidak hanya surut, tetapi juga berubah keruh dan tak layak pakai.

​”Sumber air sungai terdekat yang berjarak 700 meter juga ikut mengering total,” ujar Edy, Kamis (9/10/2026).

​Sebelum intervensi pemerintah masuk, beban hidup warga berlipat ganda. Demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan harian, warga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air galon isi ulang atau berjalan kaki sejauh 1 kilometer menuju kawasan Baratan Wetan.

​Menyikapi darurat kemanusiaan ini, Pemerintah Kabupaten Jember tidak tinggal diam. Melalui tim reaksi cepat penanggulangan bencana (TRC-PB) BPBD yang berkolaborasi dengan Perumdam Tirta Pandalungan, pasokan air bersih digencarkan ke titik-titik terdampak.

Sebanyak 10.000 liter air bersih disalurkan langsung ke Baratan Timur dan dijadwalkan rutin mengalir setiap dua hari sekali.

BPBD telah menyiagakan 7 unit tandon air berkapasitas masing-masing 1.200 liter di pemukiman warga untuk mempermudah akses penampungan.

“Langkah cepat ini didasarkan pada Surat Keputusan Bupati Jember tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan, dan Lahan Tahun 2026,” tambahnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *