Banyuwangi (beritajatim.com) – Semangat belajar warga lanjut usia (lansia) dan masyarakat yang sempat putus sekolah di Kampung Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, tetap tinggi. Sekitar 500 warga yang sebelumnya mengalami buta aksara atau tidak melanjutkan pendidikan kini mendapat kesempatan untuk belajar kembali melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) NUN.

PKBM NUN diresmikan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pringgojati, Kecamatan Kalipuro. Peresmian tersebut bertepatan dengan perayaan 11 tahun Kampoeng Batara (Kampung Baca Taman Rimba), yang selama ini berfokus pada pengembangan literasi dan akses pendidikan bagi masyarakat.

Lembaga pendidikan nonformal tersebut merupakan hasil kerja sama Kampoeng Batara dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran PKBM NUN menjadi kelanjutan dari program pemberantasan buta aksara melalui Sekolah Aksara Kampoeng Batara yang sebelumnya telah menjangkau sekitar 500 warga.

Melalui PKBM NUN, warga yang telah mengikuti program keaksaraan dapat melanjutkan pendidikan kesetaraan secara berkelanjutan, mulai dari Paket A setara sekolah dasar (SD), Paket B setara sekolah menengah pertama (SMP), hingga Paket C setara sekolah menengah atas (SMA). Program ini diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tanpa dibatasi usia.

Veronica Tan mengapresiasi konsistensi Kampoeng Batara dalam mendampingi masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan, agar memperoleh akses pendidikan. Menurutnya, upaya tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif.

“Kami sangat mengapresiasi konsistensi yang dilakukan di kampung ini. Selain mengajak anak-anak untuk bermajn dan belajar, tapi juga mendampingi ibu-ibu yang semula tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis melalui program Sekolah Aksara. Semoga ini bisa menjadi percontohan,” kata Veronica, yang diidampingi Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Sabtu (10/10/2026).

Founder Kampoeng Batara, Widie Nurmahmudy, menjelaskan bahwa nama NUN memiliki filosofi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan literasi. Nama tersebut merujuk pada huruf Nun dalam bahasa Arab yang dimaknai sebagai wadah ilmu pengetahuan, tempat tinta, sekaligus simbol awal penciptaan.

Bentuk huruf Nun yang menyerupai mangkuk dengan satu titik di dalamnya melambangkan tempat untuk menampung sumber pengetahuan. Filosofi tersebut juga berkaitan dengan pena sebagai simbol literasi, ilmu pengetahuan, serta pencatatan perjalanan kehidupan manusia.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *