
Probolinggo (beritajatim.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kamis (15/10/2026), berubah menjadi tragedi maut.
Empat orang tewas, sementara dua korban lainnya mengalami kondisi serius. Satu korban kritis dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya, sedangkan satu korban lainnya menjalani perawatan intensif di RSUD Tongas, Kabupaten Probolinggo.
Di tengah jatuhnya korban jiwa, polisi mulai menyelidiki penyebab kebakaran yang melanda kawasan konservasi tersebut. Dugaan adanya unsur kesengajaan turut didalami, meski kepolisian belum mengungkap hasil penyelidikan yang dapat memastikan penyebab munculnya api.
Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar mengatakan, penanganan di lapangan masih difokuskan pada evakuasi korban dan pemadaman api. Bersamaan dengan itu, petugas mulai mengumpulkan bukti untuk mengungkap penyebab kebakaran.
Asmida menegaskan, polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan barang bukti. Langkah tersebut menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengungkap asal mula kebakaran, termasuk mendalami dugaan adanya unsur kesengajaan.
“Kami masih terus mengumpulkan barang bukti di sana, serta melakukan olah TKP untuk penyelidikan. Hasilnya akan segera kami sampaikan secepatnya,” ujarnya.
Sementara itu, kebakaran dilaporkan masih menyisakan dua titik api. Kondisi tersebut membuat penanganan di lapangan belum sepenuhnya selesai ketika tragedi yang merenggut empat nyawa itu terjadi.
Proses evakuasi korban berlangsung dramatis. Para relawan yang sebelumnya berjuang memadamkan api harus menghadapi medan ekstrem, suhu udara yang sangat dingin, serta minimnya penerangan saat proses penyelamatan berlangsung dari sore hingga petang.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber