
jatimnow.com – Pemerintah Kabupaten Nganjuk memastikan sektor pertanian di wilayahnya tetap aman di tengah ancaman musim kemarau. Sebagian besar wilayah sentra pertanian dinilai tidak terdampak secara signifikan karena petani setempat memanfaatkan sumur dalam dan teknologi modern.
Bupati Nganjuk H. Marhaen Djumadi menjelaskan, terdapat beberapa titik wilayah yang masuk kategori kritis air akibat kedekatannya dengan wilayah Bojonegoro, seperti di Kecamatan Jatikalen serta Desa Ngepung dan Sumber Miri di Kecamatan Lengkong.
Di wilayah tersebut, aktivitas pengeboran tanah kerap memunculkan kandungan minyak karena karakteristik geografisnya.
Kendati demikian, Marhaen menegaskan bahwa mayoritas wilayah pertanian lainnya di Nganjuk berada dalam kondisi aman dan subur.
“Kalau Anda datang ke Nganjuk, pasti bisa melihat tanaman yang hijau-hijau semua. Padahal, sekarang sedang musim kemarau, tetapi tanamannya tetap hijau sekali,” ujar Marhaen usai menjadi pembicara dalam Pelatihan Jurnalistik Batch yang dihelat oleh Rumah Literasi Digital (RLD) bersama GMNI Surabaya Raya, di The Alana Hotel Surabaya, Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang diikuti 28 kader dan alumni GMNI untuk memperkuat literasi digital serta membangun nalar kritis dalam menghadapi sebaran hoaks.
Pelatihan bertema “Merawat Nalar Kritis dalam Penulisan & Jurnalisme” tersebut dirancang untuk melatih kemampuan peserta memverifikasi informasi dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Marhaen menyebutkan, daerah sentra seperti Ngronggot, Prambon, Tanjunganom, Pace, Sukomoro, hingga Rejoso ditopang oleh kesuburan tanah yang baik serta pasokan air dari Sungai Brantas. Untuk mengatasi keterbatasan air di sejumlah titik, para petani mengandalkan sumber air bawah tanah melalui pembangunan sumur-sumur dalam.
Menurut Marhaen, karakteristik tanaman bawang merah justru cocok dengan kondisi cuaca kering. Curah hujan yang terlalu tinggi dinilai kurang ideal bagi pertumbuhan komoditas andalan tersebut.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber