RRI.CO.ID, Surabaya – Program One Pesantren One Product (OPOP) yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menunjukkan tajinya dalam menggerakkan roda perekonomian dari lingkungan basis keagamaan. Melalui pemberdayaan ekosistem pesantren yang meliputi santri, pengurus, hingga alumni, program ini terbukti mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang mandiri.

Hal tersebut diangkat secara mendalam dalam dialog interaktif program “Kita Indonesia” yang menghadirkan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, bersama Direktur PT Simpati Promosindo Jaya Abadi, Sri Fathonah. Dalam pemaparannya, Endy Alim Abdi Nusa menjelaskan bahwa potensi ekonomi di lingkungan pesantren sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap optimal jika hanya berfokus pada pendidikan keagamaan semata.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur hadir memberikan akselerasi dengan melatih para santri dan pengurus pesantren untuk mengenali peluang usaha mulai dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. Mulai dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari santri seperti sabun herbal, air minum, produk kopi, hingga makanan siap saji, semuanya kini mulai diproduksi secara mandiri di dalam lingkungan pesantren.

“Apabila pesantren-pesantren dan seluruh ekosistemnya, baik santrinya, pengurus pesantrennya, maupun alumninya, kalau bisa diberdayakan secara ekonomi, itu akan menggerakkan ekonomi yang cukup besar. Tugas pemerintah berikutnya adalah mengenalkan produk-produk tersebut ke pasar, bagaimana bertemu dengan pembeli, serta memberikan pendampingan legalitas hingga terbentuknya Koperasi Pondok Pesantren,” ujar Endy Alim Abdi Nusa saat memaparkan program OPOP.

Tidak hanya berhenti pada pelatihan produksi, pemerintah juga membekali para pelaku usaha santri dengan akses digitalisasi melalui platform OPOP Market serta pelatihan pembukuan keuangan yang tertib. Langkah ini krusial agar unit usaha di pesantren dapat memenuhi standar perbankan (bankable) sehingga memudahkan mereka dalam mengakses permodalan.

Berbagai produk inovatif hasil binaan ini bahkan telah merambah pasar yang lebih luas, termasuk keikutsertaan dalam misi dagang antarprovinsi yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dari sudut pandang promotor dan penyelenggara, Sri Fathonah atau yang akrab disapa Ning Ona, merasakan betul perkembangan yang signifikan dari produk-produk pesantren dari tahun ke tahun.

Menurutnya, kualitas kemasan, variasi produk, hingga daya saing barang-barang buatan pesantren kini sudah tidak kalah dengan produk pabrikan di pasaran umum. Pendampingan intensif yang diberikan Dinas Koperasi dan UKM Jatim terbukti mampu mengubah pola pikir santri agar tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia bisnis modern.

“Kalau kita lihat setiap pameran, OPOP Expo dari tahun ke tahun itu variatif produknya semakin bagus, kemasannya menarik, dan tidak kalah dengan produk-produk di luar. Pondok ini sekarang mengikuti perkembangan penjualan secara digital, dibekali literasi bisnis, keuangannya dibantu, disambungkan dengan bank, dan bahkan ada yang sudah ekspor,” ucap Sri Fathonah menanggapi perkembangan kemandirian santri.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *