BANGKALAN, iNewsSurabaya.id – Kemarau panjang membuat tanah di Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, mengering. 

Namun, hamparan tanaman semangka, gambas, tomat, dan timun justru tumbuh menghijau. Di lahan seluas setengah hektare itu, tiga pemuda membuktikan bahwa tanah kering masih bisa menjadi sumber penghidupan.

Mereka adalah Marnawi bersama dua rekannya yang memilih bertahan di desa daripada merantau untuk mencari pekerjaan. Dengan bekal pendidikan lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan sekolah dasar (SD), ketiganya mengandalkan kemauan belajar dan ketekunan untuk mengembangkan pertanian di lahan milik desa.

Melalui program Eco Edufarming yang didukung PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), mereka belajar mengolah tanah, mengelola air, hingga memasarkan hasil panen. Upaya tersebut perlahan membuka peluang ekonomi di tengah kondisi lahan yang dikenal kering dan sulit ditanami.

Perjalanan Marnawi dimulai setelah pulang dari perantauan pada 2019. Saat itu, ia melihat sayuran bisa tumbuh di tanah kelahirannya, meskipun tanaman jagung dan kacang sebelumnya sulit berkembang.

Program pertanian sempat terhenti akibat pandemi COVID-19. Marnawi pun kembali bekerja sebagai kuli. Namun, ketika program kembali berjalan pada 2021, ia memutuskan terlibat lagi dalam pengembangan pertanian bersama dua rekannya.

“Dengan pendampingan akademisi dan praktisi pertanian, kami mulai belajar dari dasar. Tomat varietas Sofia, cabai, dan sawi menjadi beberapa tanaman awal yang dibudidayakan,” kata Marnawi, Senin (19/10/2026).

Perjalanan mereka tidak mudah. Sejumlah warga sempat meragukan kemampuan tanaman sayuran untuk bertahan di lahan kering Bandang Dajah. Tantangan lain muncul ketika hasil panen mulai dipasarkan.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *