
JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER — Sebuah catatan bersejarah terukir di Kabupaten Jember dalam penanganan kemiskinan. Merujuk pada data indikator pembangunan 2026 yang diserahkan BPS Jember, wilayah ini akhirnya berhasil bangkit dan terlepas dari predikat dua besar daerah termiskin di Jawa Timur.
Bupati Jember, Gus Fawait, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian positif tersebut. Selama bertahun-tahun, Jember selalu berada di posisi kedua secara absolut dalam hal tingkat kemiskinan di tingkat provinsi. Namun, kerja keras lintas sektor kini membuahkan hasil nyata.
“Alhamdulillah, Jember hari ini sudah on the track. Selama bertahun-tahun kemiskinan kita selalu nomor dua secara absolut di Jawa Timur, dalam sejarahnya hari ini kita sudah on the track ada perbaikan, kita tidak nomor dua lagi, tapi sudah nomor tiga dengan adanya penurunan kemiskinan yang cukup signifikan di Kabupaten Jember,” kata Gus Fawait, Selasa (20/10/2026), di Pendopo Wahya Wibawa Graha.
Gus Fawait menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen, baik pemerintah maupun pihak swasta di Jember. Pertumbuhan ekonomi daerah didorong oleh peningkatan signifikan dalam pengeluaran pemerintah (baik melalui APBD maupun APBN) serta tren investasi yang semakin positif sepanjang tahun 2025 hingga 2026.
Sejumlah program prioritas terbukti ampuh menekan angka kemiskinan secara efektif. Di antaranya, pengobatan gratis UHC, layanan Homecare, hingga fasilitas pengantaran pasien pulang menggunakan Mobil Cinta.
Jember juga menyediakan alokasi beasiswa hingga tingkat kelulusan bagi sekitar 11 ribu mahasiswa. Hal tersebut menjadi salah satu program bantuan pendidikan terbesar untuk tingkat kabupaten/kota di Indonesia.
“Berbagai intervensi pasar murah, program Bunga Desaku yang menyediakan paket sembako, serta penyaluran bantuan pangan terbukti efektif menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan laju inflasi,” ulasnya.
Meski telah menunjukkan progres luar biasa, dengan tingkat kemiskinan persentase yang berada di kisaran 8 persen atau lebih rendah dari rata-rata tingkat provinsi, Gus Fawait menegaskan bahwa capaian ini barulah permulaan.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber