
Masyarakat Samin merupakan salah satu kelompok masyarakat yang masih menjaga ajaran leluhur di Jawa Timur. Di Kabupaten Bojonegoro, para penganut ajaran Samin atau Sedulur Sikep dapat dijumpai di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.
Masyarakat Samin dikenal dengan ajaran yang menekankan kejujuran, kesederajatan manusia, kerukunan, dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun dan masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menggelar tradisi Nyadran dan upacara pernikahan adat.
Masyarakat Samin merupakan keturunan para pengikut Samin Surosentiko, tokoh yang lahir pada 1859 di wilayah Blora, Jawa Tengah. Ia dikenal melalui ajarannya yang mendorong perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda tanpa menggunakan kekerasan.
Perlawanan tersebut antara lain diwujudkan melalui penolakan terhadap pembayaran pajak dan sejumlah peraturan pemerintah kolonial. Ajaran Samin juga menekankan kesederajatan manusia sehingga tidak seharusnya seseorang dibeda-bedakan berdasarkan status sosialnya.
Masyarakat yang mengikuti ajaran tersebut dikenal pula dengan sebutan Sedulur Sikep. Istilah ini berkaitan dengan identitas dan ajaran hidup yang mereka pegang.
Di Bojonegoro, ajaran Samin masih dijalankan oleh masyarakat di Dusun Jepang, Desa Margomulyo. Meski telah berbaur dengan masyarakat luas dan menerima perkembangan zaman, mereka tetap mempertahankan sejumlah tradisi yang diwariskan para pendahulu.
Salah satu ajaran Samin di Bojonegoro adalah lima pitutur luhur. Menurut Bambang Sutrisno, keturunan generasi pendiri ajaran Samin yang juga merupakan putra sesepuh masyarakat Samin, Mbah Harjo Kardi, prinsip-prinsip ini menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Berikut lima pitutur masyarakat Samin.
Pitutur pertama mengajarkan manusia untuk berperilaku jujur, sabar, berusaha, dan menerima keadaan dengan lapang dada. Nilai tersebut menjadi pedoman agar seseorang tetap menjaga perilaku baik dalam menjalani kehidupan.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber