jatimnow.com –  Berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi petani saat menjemur gabah, seorang remaja asal Kediri, Jocelyn Cheryl Setiobudi, mengembangkan inovasi digital bernama Jemuralert.com. Platform ini dirancang untuk membantu masyarakat menentukan waktu yang lebih tepat dalam melakukan aktivitas berdasarkan prakiraan cuaca sesuai lokasi dan jam yang dibutuhkan.

Inovasi tersebut berangkat dari persoalan sederhana, tetapi memiliki dampak penting bagi sektor pertanian. Selama ini, banyak petani masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan gabah hasil panen. Ketika hujan datang secara tiba-tiba, gabah yang sedang dijemur berisiko kembali basah dan kualitasnya dapat terganggu.

Melihat kondisi tersebut, Jocelyn mencoba menghadirkan solusi berbasis teknologi yang tidak sekadar menampilkan informasi cuaca, tetapi juga membantu pengguna merencanakan aktivitas berdasarkan waktu dan lokasi tertentu.

“Jemuralert kami buat dari persoalan yang sederhana tetapi sangat dekat dengan aktivitas masyarakat, khususnya petani. Ketika seseorang ingin menjemur padi, yang dibutuhkan bukan hanya informasi apakah hari itu akan hujan atau tidak, tetapi informasi yang lebih spesifik, seperti kapan hujan diperkirakan turun di lokasi tersebut,” ujar Jocelyn Cheryl Setiobudi, Rabu (21/10/2026).

Lebih jauh Jocelyn menjelaskan, gagasan pengembangan Jemuralert.com bermula dari riset mengenai efisiensi proses pengeringan hasil pertanian.

Dalam industri pengolahan padi berskala menengah dan besar, pengeringan dapat dilakukan menggunakan mesin dryer dengan pengaturan temperatur dan kadar air untuk memperoleh hasil yang optimal. Namun, tidak semua petani memiliki akses terhadap fasilitas tersebut.

Sebagian besar petani masih mengandalkan pengeringan alami dengan bantuan sinar matahari. Metode ini membuat proses pengeringan sangat bergantung pada kondisi cuaca yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Persoalan muncul ketika penjemuran dilakukan tanpa perencanaan. Saat hujan turun mendadak, petani harus segera mengamankan gabah yang masih terhampar. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika petani harus mengelola lahan di beberapa lokasi sekaligus.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *