Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur, Kombes Pol Roy H M Sihombing, mengungkapkan bahwa kecemburuan korban diduga memicu perselisihan yang berujung pada aksi kekerasan tersebut.

“Motifnya kemungkinan masalah dendam. Emosi karena memang peristiwa yang melatarbelakangi bahwa pada saat itu si suami ini juga kan punya istri sah,” ujarnya, Senin (26/10/2026).

Sebelum kejadian, Dwi disebut sempat merencanakan liburan bersama korban dan anaknya ke Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan. Namun, rencana tersebut batal karena Dwi memilih menjemput istri sahnya di stasiun. Keputusan itu diduga memicu kecemburuan korban hingga terjadi cekcok antara keduanya. Perselisihan tersebut kini menjadi salah satu bagian yang didalami penyidik untuk mengungkap latar belakang pembunuhan.

“Nah, ada komunikasi dengan istri sah. Kemudian yang perempuannya merasa cemburu. Jadi, akibat dari kecemburuan itu terjadi percekcokan mulut antara si korban dengan si atau juga pelaku,” ungkapnya.

Kasus ini mulai terungkap setelah keluarga korban dari Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, melaporkan hilangnya ibu dan anak tersebut ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026.

Kepala Subdirektorat III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menjelaskan Dwi ikut mengantar keluarga korban saat membuat laporan kehilangan.

Pada awalnya, keluarga masih meyakini Dini dan anaknya sekadar menghilang. Keberadaan Dwi yang turut mendampingi keluarga ke kantor polisi membuat dugaan keterlibatannya belum sepenuhnya terungkap.

“Jadi, pelaku dan keluarga korban yang ada di Bogor datang ke Madiun untuk melapor kehilangan. Selama satu bulan itu memang tadinya dipercayai bahwa korban hilang,” tuturnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *