Sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim), termasuk Kota Surabaya, diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir. Namun, hujan tersebut belum menjadi penanda bahwa wilayah Jatim telah memasuki musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator Rossby turut memengaruhi kondisi tersebut.

Prakirawan (forecaster) sekaligus bagian dari Tim Pengolah Data BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Jawa Timur, Linda Fitrotul Muzayanah, mengatakan hujan yang turun belakangan ini belum bisa dijadikan patokan bahwa musim hujan telah dimulai.

“Betul, hujan belakangan ini belum tergolong musim penghujan karena kita perlu memantau curah hujan untuk beberapa hari ke depan,” kata Linda kepada detikJatim, Kamis (29/10).

Dalam penentuan musim hujan, Linda mengatakan bahwa pihaknya perlu mempertimbangkan pemantauan curah hujan selama beberapa hari ke depan berdasarkan pada kriteria curah hujan dasarian atau periode 10 hari.

“Karena BMKG juga memiliki kriteria curah hujan dasarian (10 harian) bukan hanya berdasar ada atau tidaknya hujan dalam beberapa hari saja,” ucapnya.

Linda menyebut penyebab turunnya hujan di sejumlah wilayah di Jatim di luar musim penghujan, merupakan pengaruh dari gelombang ekuator rosby dan (Madden-Julian Oscillation) MJO atau Osilasi Madden Julian.

“Kalau saat ini hujan merata di jawa timur khususnya itu pengaruh dari gelombang ekuator rosby dan MJO,” terangnya.

Linda menjelaskan, bahwa MJO merupakan fenomena atmosfer yang bergerak dari barat ke timur. Fenomena ini mendukung pembentukan awan di hujan di Indonesia, hingga aktivitas awan hujan meningkat dan peluang terjadinya hujan juga lebih besar.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *