
radarsurabayabisnis.id – Jawa Timur memiliki peluang besar meningkatkan produksi tembakau Virginia untuk memenuhi kebutuhan industri hasil tembakau (IHT) nasional. Namun, pengembangan komoditas tersebut membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam teknologi budi daya, modernisasi pengolahan, dan penyediaan sarana produksi bagi petani.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) sekaligus Ketua APTI Jawa Timur Muhdi mengatakan, kebutuhan industri terhadap tembakau Virginia, khususnya jenis flue-cured (FC), hingga kini belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Menurut dia, produksi tembakau Virginia nasional saat ini berkisar 29 ribu ton. Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan industri sehingga impor masih menjadi salah satu sumber pemenuhan bahan baku.
Muhdi menjelaskan, kebutuhan tembakau Virginia FC berbeda dengan Virginia rajangan. Produksi Virginia rajangan di dalam negeri relatif mencukupi, bahkan berpotensi mengalami kelebihan pasokan. Sebaliknya, ketersediaan Virginia FC masih terbatas.
Di Jawa Timur, sentra produksi Virginia FC terutama berada di Lamongan dan Bojonegoro. Pengembangan komoditas tersebut dinilai perlu diperluas agar ketergantungan industri terhadap tembakau impor dapat dikurangi.
Selain keterbatasan produksi, petani juga menghadapi persoalan daya saing. Negara seperti Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam mekanisasi pertanian sehingga biaya produksi lebih efisien.
Zimbabwe juga menjadi salah satu pemasok tembakau ke Indonesia dengan volume ekspor yang diperkirakan mencapai 30 ribu hingga 40 ribu ton per tahun.
Muhdi melihat peluang kerja sama dengan Zimbabwe melalui transfer teknologi. Bahkan, pengembangan pembenihan tembakau asal negara tersebut mulai berjalan di Kabupaten Sumenep.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber