Malang (beritajatim.com) – Skandal 1MDB yang mengguncang Malaysia dibedah di hadapan mahasiswa Malaysia sendiri oleh seorang dosen dari Malang. Dr. Dewi Diah Fakhriyyah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma), menjadikannya salah satu contoh kegagalan tata kelola perusahaan dalam kuliah tamu di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.

Kuliah bertajuk Good Corporate Governance: Building Trust, Transparency, and Accountability in Business itu digelar di Faculty of Administrative Science and Policy Studies (FSPPP) UiTM, Rabu (28/10/2026). Sekitar 200 mahasiswa program Administrasi Publik dan Administrasi Korporasi hadir.

Dewi menekankan bahwa good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik bukan sekadar regulasi. Bagi dia, GCG adalah alat penting untuk menjaga keberlanjutan perusahaan dan merawat kepercayaan para pemangku kepentingan.

“Fondasi utama dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang sehat itu bersandar pada lima prinsip krusial, yang biasa kita kenal dengan transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, serta keadilan (fairness),” ujar Dewi kepada beritajatim.com, Selasa (3/11/2026).

Kuliah itu tak berhenti di teori. Dewi mengajak mahasiswa membandingkan dua model pengawasan perusahaan. Malaysia lazim memakai sistem one-tier board atau dewan tunggal, sedangkan Indonesia menganut two-tier board yang memisahkan dewan komisaris dan direksi.

Ia menguraikan karakter, keunggulan, dan celah masing-masing sistem dalam membangun pengawasan yang akuntabel.

Agar lebih membumi, Dewi menghadirkan sederet kasus besar kegagalan tata kelola. Ada manipulasi laporan keuangan Enron, rekayasa uji emisi Volkswagen dalam skandal Dieselgate, hingga skandal korupsi dana investasi negara Malaysia, 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

“Melalui deretan kasus nyata ini, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana lemahnya sistem pengawasan, minimnya transparansi, praktik penyalahgunaan wewenang, dan rendahnya integritas manajemen mampu menghancurkan reputasi perusahaan raksasa serta merugikan banyak pihak secara masif,” kata Dewi.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *