
Dalam siaran pers yang dibagikan melalui akun Instagram @infobmkgjuanda, BMKG Juanda mengatakan, sebagian besar wilayah Jawa Timur saat ini sedang memasuki fase peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan (masa pancaroba).
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi serta dampaknya terhadap aktivitas harian dan perjalanan.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini oleh BMKG Juanda, terdapat empat faktor utama yang memicu pembentukan cuaca ekstrem di Jawa Timur pada pekan ini.
Pertama, adanya aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sedang melintasi Jawa Timur, di mana fenomena ini secara signifikan mendukung peningkatan suplai uap air dan mempercepat pembentukan awan hujan.
Kedua, terpantau munculnya pola konvergensi atau pertemuan angin di sekitar wilayah Jawa Timur yang turut mendorong pertumbuhan awan-awan konvektif secara masif.
Faktor ketiga berasal dari kondisi suhu permukaan laut di perairan Selat Madura yang relatif hangat, sehingga menyumbang penguapan masif yang menjadi pasokan utama pembentukan awan hujan.
Terakhir, kondisi atmosfer lokal Jawa Timur yang tergolong labil semakin memperkuat pemicu cuaca ekstrem dengan memicu pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus secara intensif.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber