Asumsi tersebut muncul melalui salah satu unggahan warganet di Threads yang menyebut wilayah jatim yang dirasa cocok masuk WITA karena jadwal sholat subuh lebih awal pada pukul 03.45.

“Wis Jatim iki pancen paleng bener melu WITA, jam 3.45 wes adzan subuh,” tulis takarir akun pengguna Threads @hermandhoul, Senin (2/11).

Menanggapi utas tersebut, Jaelani menjelaskan bahwa letak geografis Surabaya membuat matahari bergerak lebih cepat sekitar 31 menit daripada waktu yang ditunjukkan dari Waktu Indonesia Barat (WIB).

“Pengaruh posisi geografis Surabaya terhadap gerak semu harian matahari memang ada, tetapi variasinya tidak seekstrem yang dipersepsikan masyarakat umum. Simpangan akibat kedudukan bujur bersifat konstan sepanjang tahun, yakni pergeseran waktu surya sekitar 31 menit lebih awal dari waktu baku WIB,” kata Jaelani kepada detikJatim, Sealsa (3/11/2026).

Hal ini karena posisi geografis Surabaya berada di antara dua acuan zona waktu yaitu WIB dan WITA. WIB menggunakan acuan 105° Bujur timur dengan deviasi waktu Surabaya +31 menit. Sedangkan WITA menggunakan acuan 120° Bujur timur dengan deviasi waktu Surabaya +29 menit.

Ia menjelaskan, secara geografis posisi Surabaya hampir sama jauhnya dari kedua meridian acuan tersebut. Jika dilihat berdasarkan selisih waktu Matahari dari keduanya hanya dua menit.

“Deviasi Surabaya ke meridian acuan WIB (105° BT) adalah +31 menit, sedangkan deviasinya ke meridian acuan WITA (120° BT) adalah -29 menit. Selisih margin antara dua acuan hanya terpaut dua menit,” terang Jaelani.

Selisih dua menit tersebut terlalu kecil untuk menyatakan posisi Surabaya cocok dengan salah satu zona waktu tersebut. Surabaya masuk dalam zona waktu WIB, membuat waktu terasa lebih cepat +31 menit. Jadi, meski jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, matahari sudah melewati kulminasi pukul 11.29.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *