jatimnow.com – Jejak kekejaman seorang juragan rempah-rempah asal Belanda menjadi latar belakang hadirnya destinasi wisata baru di Kota Batu. Bernama Gudang Angker Lawang, tempat wisata ini mengusung konsep misteri yang dipadukan dengan kisah sejarah kelam masa kolonial.

Lokasinya berada satu kompleks dengan Batu Night Spectacular (BNS), tepatnya di Jalan Raya Oro-oro Ombo, Kota Batu. Wisata ini mengangkat kisah kekejaman bangsa Belanda dan sejumlah bangsa Eropa lainnya, khususnya praktik penyiksaan pada masa Eropa Klasik.

Salah satu kisah utama yang diangkat adalah sosok Beatrix, perempuan asal Belanda yang dikenal memiliki karakter keji dan gemar melakukan penyiksaan. Perempuan yang berprofesi sebagai pedagang rempah-rempah itu diketahui pernah lama tinggal di Batavia. Namun, berdasarkan penelusuran yang dilakukan tim pengkaji, jejak keberadaannya juga ditemukan di Lawang, Kabupaten Malang.

Lokasi yang disebut pernah disinggahi Beatrix tersebut konon kini menjadi bagian dari area Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Radjiman Wediodiningrat. Tim pengkaji Gudang Angker Lawang juga mengklaim berhasil mengumpulkan sejumlah barang pribadi yang berkaitan dengan sosok tersebut.

Kisah kekejaman Beatrix dan praktik penyiksaan yang berkembang di sejumlah negara Eropa kemudian divisualisasikan melalui berbagai properti dan replika korban di Gudang Angker Lawang. Narasi sejarah kelam itu juga dibalut dengan cerita misteri yang menambah suasana mencekam di dalam wahana.

Pengunjung diajak merasakan gambaran suasana penyiksaan pada masa lalu, mulai dari ketakutan hingga penderitaan para korban. Dalam kisah yang diangkat, praktik penyiksaan tersebut bahkan disebut tidak jarang berujung pada kematian.

Pencetus ide Gudang Angker Lawang, Oge Artemus, mengungkapkan bahwa wahana ini awalnya dirancang sebagai rumah hantu dengan konsep berbeda. Bersama rekannya, ia kemudian melakukan serangkaian riset selama kurang lebih satu tahun agar wahana tersebut tidak sekadar menawarkan hiburan, tetapi juga memiliki nilai sejarah.

Dari hasil riset tersebut, Oge dan tim akhirnya memilih mengangkat sejarah Lawang serta kisah kekejaman kolonialisme sebagai tema utama.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *